Pemuda itu sedang sendirian sekarang. Sendirian dalam arti sebenarnya. Sore itu udara terasa dingin karena hujan baru saja turun dan juga tentu saja karena ruangan tempat dia berada sekarang ber-AC. Sebuah ruangan di sebuah rumah sakit. Tidak, bukan pemuda itu yang dirawat, walaupun sebenarnya hatinya sakit, tetapi temannyalah yang dirawat. Pemuda itu mendapat tempat istimewa untuk menemani temannya yang sakit itu malam ini. Sekaligus sebagai pembuktian pertemanan mereka.
Sebenarnya, sesuatu hal yang sudah lama diperkirakan akan terjadi oleh pemua itu telah terjadi. Baru saja. Namun pemuda itu tidak ingin memikirkan tentang hal tersebut dulu. Ia hanya ingin menulis sebuah dongeng sekarang. Dongeng tentang seorang pangeran. Dongeng yang sudah lama sekali ingin dia tulis. Perlahan-lahan pemuda itu mulai menuangkan segala imajinasinya tentang dongeng tersebut kedalam tuts-tuts keyboard laptop 14inch-nya yang tidak terlalu canggih itu.
“Zaman dahulu kala, hiduplah seorang pangeran dari kerajaan fantasi. Pangeran adalah anak satu-satunya dari pasangan raja dan ratu negeri itu. Karena merupakan anak semata wayang, maka pangeran selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya.”
“Saat itu pangeran merasa hidupnya sempurna, dibesarkan dengan kasih sayang oleh semua orang. Tidak hanya oleh raja dan ratu, tapi juga seluruh rakyat kerajaan fantasi. Semua orang selalu mengelu-elukan dirinya”
“Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Pada umur 12 tahun, pangeran harus meninggalkan kerajaan fantasi. Pangeran harus berkelana ke kerajaan seberang untuk mendapatkan kekuatan yang akan melindungi kerajaan fantasi. Kerajaan seberang itu bernama kerajaan realita. Di kerajaan realita, ia bukan lagi seorang pangeran, melainkan hanya seorang biasa. Di kerajaan realita ini ia tinggal di rumah pamannya. Pamannya beristrikan seorang nenek sihir yang sangat jahat.”
“Sejak itu sang pangeran tidak merasakan kebahaiaan lagi. Hari-harinya diisinya dengan berlatih sambil sesekali dicecoki racun oleh sang nenek sihir jahat, terkadang monster-monster buatan sang nenek sihir ikut menyakitinya. Begitu pula para kurcaci pelayan nenek sihir itu.”
“Pangeran terus bertahan dengan semua itu, menunggu hingga akhirnya dia cukup dewasa untuk pergi meninggalkan rumah nenek sihir itu. Dan ketika saat itu tiba, beberapa bulan setelah umurnya menginjak usia yang kedelapan belas, pangeran kabur dari rumah sang nenek sihir, meninggalkan semua penderitaaannya dan kenangan buruknya”
“Sang pangeran akhirnya memutuskan untuk tinggal di hutan. Berteman dengan hewan-hewan hutan seperti gajah, rusa, monyet, burung pelikan dan berbagai macam hewan lainnya. Sang pangeran mulai merasakan kehangatan keluarga kembali di hutan itu. Pangeran pun lalu menamai hutan tersebut dengan nama hutan ajaib.”
“Pangeran hidup bahagia di hutan itu. Banyak makna hidup yang dia pelajari disana. Pangeran pun mulai menemukan dirinya yang sebenarnya. Sebuah petualangan berat selama 6 bulan di awal kedatangannya di hutan bersama para hewan lainnya yang baru datang ataupun baru lahir telah membuat mereka menjadi seperti saudara satu sama lain.”
“Tapi ada satu hal yang sebenarnya hanya diketahui oleh sang pangeran tapi tidak pernah diceritakannya kepada sahabat-sahabatnya di hutan, tidak pula pada pamannya dan istrinya yang nenek sihir itu dan tentu saja tidak pula diceritakannya kepada kedua orang tuanya, raja dan ratu di kerajaan fantasi.”
“Kenyataan itu adalah bahwa sebenarnya sang pangeran menderita sebuah penyakit yang sangat mengerikan. Sebuah penyakit yang dapat membunuh diri pangeran secara perlahan-lahan. Sebuah penyakit yang membuat pangeran merasa sedih ketika dia berada dalam kesendiriannya dan memikirkan tentang penyakitnya. Sebuah penyakit yang selalu dipintanya untuk disembuhkan sambil diiringi tangisan ketika sang pangeran berdoa kepada Tuhannya.”
“Dua tahun sudah sang pangeran tinggal di hutan itu, bayi-bayi baru telah lahir, tumbuh-tumbuhan baru pun tumbuh kembali, sebuah perputaran yang sama yang terjadi setiap tahunnya, ada yang datang dan adapula yang pergi.”
“Pada suatu hari, sang pangeran berjalan-jalan berkeliling hutan. Ketika sedang asik menikmati suara kicauan burung, secara tidak sengaja ia tersandung akar pohon, pangeran pun jatuh terjerembab menghantam tanah. Sambil sesekali menggerutu karena merasa kesakitan, ia pun segera berdiri . tanpa sengaja ia melihat sebuah tanaman yang sebelumnya tak pernah dilihatnya di seluruh hutan.”
“Tanaman itu begitu indah, dipenuhi bunga-bunga kecil berwarna putih. Daunnya yang hijau dan lebat mambuat hati pangeran menjadi teduh ketika melihatnya. Bentuk tanaman yang mungil justru semakin menarik hati sang pangeran.”
“Karena belum pernah melihat tanaman tersebut sehingga ia tidak mengetahui namanya. Pangeran akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya dan menanyai para penghuni hutan lainnya tentang tanaman yang dilihatnya itu. Tapi ternyata tidak satupun penghuni hutan mengetahui tentang tanaman apa itu, tidak sang harimau, sang elang sang monyet, ataupun yang lainnya. ”
“Karena tidak ada yang mengetahui, sang pangeran akhirnya menamai tanaman tersebut dengan tanaman cerah. Setiap hari, pangeran merawat tanaman itu dengan seksama dan penuh kasih sayang. Disiramnya setiap sore, diberikan pupuk dari kompos di setiap minggu dan dibersihkanya dari rumput liar. Semakin hari, tanaman itu semakin tumbuh dengan subur. Walaupun masih tetap saja mungil, namun tanaman cerah itu berdaun semakin lebat dan semakin hijau dan berbunga semakin banyak. Hati pangeran semakin bahagia ketika melihatnya.”
“Sebuah hal yang disadari oleh pangeran bahwa semakin sayang ia pada tanaman cerah, penyakit mengerikan yang selama ini dideritanya berangsur-angsur sembuh. Hati pangeran merasa sangat bahagia. Mungkin inilah jawaban dari Tuhan atas doa-doanya selama ini. Ia pun semakin sayang pada tanaman itu.”
“Pada suatu hari, sang pangeran mendapati bahwa tanaman cerah berbuah. Walaupun buahnya cuma ada satu, buah itu begitu menakjubkan di mata pangeran. Sejak itu semakin telatenlah ia dalam merawat tanaman tersebut .”
“Sang pangeran lalu tidak pernah menceritakan semua itu pada hewan manapun kecuali kepada sang beruang, sahabat terbaiknya selama tinggal di hutan ajaib. Kepada sang beruang, Sang pangeran menceritakan segalanya dengan sangat antusias, bahkan mengajak sang beruang mengunjungi pohon tersebut.”
“Suatu hari, sang pangeran mendapatkan tugas dari burung hantu, sesepuh dari hutan ajaib. Sebuah tugas yang mengharuskan pangeran untuk meninggalkan hutan ajaib untuk sementara waktu dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Dengan berat hati pangeran akhirnya meninggalkan tanaman cerah yang sedang berbuahnya. Tetapi sebelum itu, terlebih dulu ia menitipkan tanaman cerahnya kepada sang beruang. Sang beruang meyakinkan sang pangeran untuk percaya kepadanya, dan begitulah yang dilakukan oleh pangeran.”
“Dua bulan pun berlalu, sang pengeran telah selesai dengan tugasnya dan telah kembali ke hutan. Namun alangkah kegetnya ia ketika mendapati buah tanaman cerahnya hilang dan tanaman itu telah layu dan hampir mati.”
“Sang pengeran pun bersedih, dan mendatangi gua sang beruang. Sesampainya di gua sang beruang, didapatinya tumbuhan yang sangat persis dengan buah cerah. Sang beruang yang juga baru saja pulang dari berburu makanan, terperanjat ketika melihat pangeran di guanya.”
“ Akhirnya kepada pangeran, sang beruang pun mengaku bahwa ketika pangeran pergi menunaikan tugas, sang beruang terus merawat tanaman tersebut hingga akhirnya buahnya matang. Sang beruang menjadi tergoda dan akhirnya dinikmatinyalah buah tersebut. Setelah itu biji dari buah tersebut ditanam oleh sang beruang di guanya. Tanaman itu tumbuh dengan sangat cepat, sehingga sang beruang mencurahkan seluruh perhatiannya pada tanaman itu sehingga melupakan tanaman cerah. Sang beruang lalu berkata ia begitu menyesal, namun ia benar-benar menyukai tanaman tersebut.”
“Sang pengeran bersedih, ia kembali ke tempat tanaman cerahnya yang telah layu dan hampir mati itu, berusaha menyiraminya dan memberinya pupuk, namun usahanya sia-sia. Tanaman itu sekarang telah benar-benar mati.”
“Kini hanya sang beruanglah yang memiliki tanaman tersebut. Sang beruang lalu menunjukannya kepada semua orang tentang tanamannya yang sangat indah itu…”
Pemuda itu menutup laptop 14 inch-nya yang tidak terlalu canggih itu. Dongeng itu masih belumlah selesai, namun sang pemuda belum tahu bagaimana cerita itu akan dilanjutkannya. Apakah Sang pangeran akan tetap sehat walaupun tanaman cerahnya itu sudah tidak ada lagi, apakah sang pangeran akan pergi dari hutan itu atau mungkin apakah sang pangeran akan menanam kembali pohon yang lain?
Pemuda itu tidak tahu. Tapi suatu saat nanti ia yakin akan dapat melanjutkan kembali dongeng tersebut karena suatu saat nanti ia telah tahu.