the race of a machine

Sang pemuda baru menyadari, sambil tersenyum, bahwa hampir disemua tulisannya ia menulis ‘sudah lama sekali pemuda itu tidak menulis’. Begitu pula pada tulisannya kali ini. Sudah lama sekali memang ia tidak menulis. Sudah lama sejak saat ia menulis dongeng tentang pangeran, beruang dan tanaman sehat itu.

Baru-baru ini sang pemuda mengikuti perlombaan yang sangat unik. Sebuah perlombaan yang benar-benar menaikan aura kompetisi para anggotanya.  Iya, sebuah perlombaan lari yang unik, perlombaan lari dengan membawa telepon rumah.

Perlombaan itu terdiri dari 25 peserta yang masing-masing dibagi ke dalam lima tim. Keduapuluhlima peserta termasuk sang pemuda yang sudah lama saling mengenal, sudah lama saling berteman, dan sudah sejak lama berlatih bersama untuk kompetisi ini. Sebuah perlombaan lari dngan membawa telepon rumah yang pada awalnya dirasa akan baik-baik saja oleh sang pemuda.

Butuh dua minggu untuk menyelesaikan lomba tersebut, namun butuh hampir satu semester untuk mempersiapkan diri. Menjelang hari H, tekanan-tekanan pun dimulai, aura persaingan pun mulai terasa. Tidak jarang para peserta tidur hingga larut malam untuk mempersiapkan hal ini.

Dan perlombaan pun dimulai! Masing-masing tim berusaha sekuat tenaga, dengan keunggulan masing-masing tentunya. Semua pada awalnya terasa begitu nyaman, walaupun penuh dengan aura kompetisi. Memasuki minggu kedua tekanan pun dimulai. Garis finish tinggal beberapa ratus meter lagi. Saat itulah semua pergolakan terjadi. Para peserta saling menyikut, menjegal, hingga mendorong anggota tim lain, agar mereka dapat sampai ke garis finish lebih awal. Sudah tidak ada lagi perkenalan antar peserta, dan juga sudah tidak ada lagi rasa pertemanan antar peserta saat itu, yang ada hanyalah bahwa saya harus juara, tidak peduli apapun caranya.

Akhirnya perlombaan pun selesai, semua peserta dapat menyentuh garis finish, walaupun ada yang terluka, ada yang menangis, dan ada pula yang merasa marah. Aura tidak sehat pun terus berlanjut selepas perlombaan. Keduapuluhlima peserta telah bermetamorfosis menjadi mesin yang diprogram untuk memenangkaan perlomban, apapun caranya. Pemuda itu pun terpaku. Ia juga telah berubah menjadi mesin, tanpa ia sadari, seperti yaang terjadi kepada keduapuluhlima orang tersebut.

Kini setelah beberapa hari perlombaann itu selesai, semua perlahan-lahan menjadi normal seperti sedia kala, namun tetap saja perlombaan itu tidak dapat terlupakan begitu saja. Lantas siapa yang jadi pemenang kali ini? Bukan tim sang pemuda yang menjadi pemenang, melainkan tim lain tapi tak mengapa, banyaak pembelajaran disana.

~ oleh tulusciptadi pada Mei 25, 2009.

Satu Tanggapan to “the race of a machine”

  1. hahaaa….
    tapi gw yakin ada beberapa yg tetap jadi manusia dan ga terbawa jad mesin..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.